Infomasi.com, HAVANA — Krisis energi di Kuba kembali memburuk setelah jaringan listrik nasional negara kepulauan di Karibia itu mengalami pemadaman total atau blackout pada Minggu (2/8/2026). Kondisi tersebut menambah tekanan bagi masyarakat yang sebelumnya telah menghadapi pemadaman listrik berulang.

Pemadaman kali ini menjadi yang keenam sejak Pemerintah Amerika Serikat (AS) di bawah kepemimpinan Donald Trump secara efektif memblokir pasokan minyak impor ke Kuba pada Januari lalu. Kebijakan tersebut turut memperburuk kondisi pasokan energi di negara itu.

Kebijakan embargo serta ancaman tarif terhadap negara-negara pemasok minyak disebut telah semakin menekan infrastruktur energi nasional Kuba. Kondisi tersebut kemudian berkembang menjadi krisis yang berdampak pada berbagai sektor kehidupan masyarakat.

Di Havana, krisis listrik bahkan memengaruhi aktivitas warga hingga waktu istirahat. Sejumlah warga memilih tidur di sepanjang tembok laut di kawasan pesisir untuk mendapatkan hembusan angin malam di tengah kondisi panas.

Pemadaman listrik berlangsung lebih dari 20 jam dalam sehari dan memicu gangguan tidur secara massal. Situasi tersebut semakin berat karena pemadaman terjadi ketika Kuba tengah menghadapi cuaca ekstrem.

Suhu udara tercatat mencapai 34 derajat Celsius dengan kelembapan Karibia hingga 80 persen. Kondisi itu membuat suhu yang dirasakan tubuh mencapai sekitar 41 derajat Celsius sehingga warga harus menghadapi panas tanpa dukungan listrik yang memadai.

Bagi warga Havana, kawasan pinggir pantai menjadi salah satu tempat untuk mencari udara yang lebih sejuk pada malam hari. Sebagian warga memanfaatkan trotoar beton di tepi pantai sebagai tempat beristirahat sementara.

Seorang pekerja konstruksi di Havana, Alexey Rios Garcia (30), mengatakan kondisi tersebut membuat warga harus kembali tidur di kawasan Malecon, atau pinggir pantai. Ia menyebut keadaan justru semakin memburuk ketika warga berharap jaringan listrik kembali stabil.

“Keadaan hanya semakin memburuk. Besok akan runtuh lagi dan kita akan kembali tidur di Malecon (pinggir pantai),” kata Alexey.Sebagian warga lainnya memilih beristirahat di balkon dan beranda depan rumah. Langkah tersebut dilakukan untuk menghindari panas di dalam rumah selama listrik masih padam.

Dampak krisis juga terasa pada berbagai sektor kehidupan masyarakat. Akses transportasi umum di Havana praktis terhenti akibat kelangkaan bahan bakar, sementara fasilitas kesehatan dan rumah sakit harus memasang panel surya secara mandiri agar peralatan medis tetap dapat beroperasi.

Sektor pariwisata yang menjadi salah satu tumpuan ekonomi nasional Kuba juga ikut terdampak. Krisis energi membuat kegiatan ekonomi dan layanan yang bergantung pada pasokan listrik menghadapi tekanan yang semakin besar.

Di tingkat rumah tangga, warga mulai mengkhawatirkan persediaan makanan. Bahan makanan seperti daging ayam beku terancam membusuk karena lemari pendingin tidak berfungsi selama berhari-hari.

Seorang guru di Havana, Elaine Delis Ramos (30), menggambarkan kondisi warga yang semakin putus asa akibat ketidakpastian pemulihan listrik. Menurut dia, harapan bahwa jaringan energi tidak kembali runtuh justru kembali pupus ketika pemadaman terjadi lagi.

“Saat kita mulai berharap (jaringan energi) tidak akan runtuh lagi, ternyata terjadi lagi. Kita tidak punya solusi,” ujar Elaine.

Rangkaian pemadaman tersebut menunjukkan semakin beratnya krisis energi yang dihadapi Kuba. Di tengah suhu panas ekstrem, keterbatasan bahan bakar dan gangguan layanan publik, warga harus mencari cara sendiri untuk bertahan sambil menunggu kepastian pemulihan jaringan listrik nasional.

By admin