Infomasi.com – Gerhana matahari total menjadi kesempatan bagi para ilmuwan untuk kembali menguji salah satu prediksi penting dalam teori relativitas umum Albert Einstein. Para peneliti akan melakukan ekspedisi untuk mengukur posisi planet dan bintang yang berada di dekat Matahari saat fenomena tersebut berlangsung.
Pengamatan itu dilakukan karena cahaya dari benda-benda langit yang berada di sekitar Matahari dapat menunjukkan efek pembelokan cahaya akibat gravitasi. Pengukuran tersebut pada dasarnya ditujukan untuk mengonfirmasi teori relativitas umum Einstein.
Argo mengatakan para ilmuwan akan melakukan ekspedisi untuk mengukur posisi planet dan bintang yang berada dekat dengan Matahari selama gerhana. Pengamatan tersebut menjadi bagian dari upaya untuk menguji kembali prediksi Einstein mengenai bagaimana gravitasi memengaruhi perjalanan cahaya.
Fenomena gerhana matahari terjadi ketika Matahari, Bulan, dan Bumi berada pada satu bidang sehingga Bulan berada di antara Matahari dan Bumi. Dalam kondisi tertentu, posisi tersebut membuat piringan Bulan menutupi Matahari dari pandangan pengamat di wilayah tertentu di Bumi.
Herbert menjelaskan bahwa gerhana matahari dan gerhana bulan memiliki keterkaitan karena ketiganya berada dalam susunan yang hampir segaris. Gerhana bulan terjadi ketika Bumi berada tepat di antara Matahari dan Bulan.
Karena itu, gerhana bulan biasanya terjadi sekitar dua pekan sebelum atau sesudah gerhana matahari. Dalam rangkaian fenomena kali ini, gerhana bulan sebagian akan dapat disaksikan dari Inggris pada 28 Agustus, sesaat setelah pukul 05.00 waktu musim panas Inggris atau BST.
Saat gerhana bulan sebagian tersebut berlangsung, cahaya yang melewati atmosfer Bumi dapat membuat Bulan tampak berwarna kemerahan. Fenomena ini dikenal luas sebagai “blood moon” atau Bulan darah.
Herbert mengatakan fenomena tersebut terjadi karena cahaya Matahari yang mencapai Bulan telah melewati atmosfer Bumi. Proses itu membuat Bulan terlihat merah dan diperkirakan menjadi pemandangan yang cukup mengesankan bagi pengamat di wilayah yang dapat menyaksikannya.
Rangkaian fenomena langit pada Agustus juga tidak berhenti pada gerhana. Hujan meteor Perseid diperkirakan mencapai puncaknya pada malam 12 hingga 13 Agustus.
Puncak hujan meteor tersebut membuat pengamatan langit pada malam setelah gerhana menjadi kesempatan tambahan bagi masyarakat dan pengamat astronomi. Jika kondisi cuaca mendukung dan langit cukup gelap, meteor dapat terlihat melintas di langit.
Gerhana matahari sendiri tidak hanya menjadi tontonan alam, tetapi juga memiliki nilai penting bagi penelitian astronomi. Posisi Matahari, Bulan, planet, dan bintang selama fenomena tersebut dapat dimanfaatkan untuk melakukan pengukuran terhadap berbagai efek fisika yang sulit diamati dalam kondisi biasa.
Salah satu pengamatan penting adalah mengukur posisi bintang yang tampak dekat dengan Matahari. Hasil pengukuran tersebut dapat digunakan untuk melihat apakah posisi tampak bintang mengalami perubahan akibat pembelokan cahaya oleh gravitasi Matahari, sebagaimana diprediksi dalam teori relativitas umum Einstein.
Dengan demikian, rangkaian fenomena langit pada Agustus menawarkan dua kepentingan sekaligus, yakni kesempatan melakukan penelitian terhadap teori fisika fundamental dan kesempatan bagi masyarakat untuk menyaksikan sejumlah peristiwa astronomi. Gerhana matahari, gerhana bulan sebagian, serta puncak hujan meteor Perseid menjadi bagian dari rangkaian fenomena yang menghiasi langit pada periode tersebut.
