Infomasi.com, Jakarta – Nilai tukar rupiah pada perdagangan Jumat, 21 Agustus 2026, terpantau berada di kisaran level Rp17.720 hingga Rp17.748 per dolar AS.

Posisi ini menunjukkan bahwa rupiah berhasil melanjutkan tren penguatan di zona hijau.

Mata uang Garuda tersebut bergerak stabil perkasa di tengah dinamika pasar keuangan global yang terus bergulir.

Kondisi positif ini didorong oleh kombinasi faktor eksternal dan sentimen kebijakan domestik yang cukup kuat.

Salah satu pendorong utamanya adalah adanya tekanan pada indeks dolar AS di pasar finansial global.

Selain itu, rencana pembelian kembali atau buyback obligasi AS oleh Departemen Keuangan turut memberikan andil besar.

Dari sisi sentimen pasar dan kebijakan domestik, penguatan rupiah terlihat jelas ketika bergerak perkasa di kisaran Rp17.720 sampai Rp17.748 per dolar AS.

Pencapaian tersebut didapat setelah rupiah berhasil mendapat tenaga segar dari pelemahan indeks dolar AS atau DXY.

Sementara itu, dari ranah kebijakan moneter dalam negeri, Bank Indonesia (BI) sebelumnya telah mengambil keputusan penting.

Bank Indonesia memutuskan untuk mempertahankan BI Rate pada level 5,75% demi menjaga stabilitas nilai tukar secara berkelanjutan.

Tidak hanya faktor domestik, faktor eksternal juga memegang peranan penting dalam pergerakan mata uang regional.

Kebijakan Departemen Keuangan AS dalam meredam imbal hasil obligasi turut memberikan ruang gerak positif bagi mata uang Asia, termasuk rupiah.

Bagaimana analisis Anda terhadap ketahanan rupiah menghadapi dinamika global sepanjang paruh kedua tahun 2026 ini?

By admin